Feeds:
Posts
Comments

Terima kasih anda telah mengunjungi blog ini, silahkan klik

www.batikjawabarat.com

untuk melihat koleksi batik kami, atau klik slidepresentasi untuk mendalami informasi seputar ISO dan informasi penting lainnya.

Hem Batik Bola MU 019

Rp. 54.500

Khusus para wanita yang gemar dengan koleksi tas Louis Vuitton, atau para suami yang ingin mewujudkan perhatian cintanya kepada istri tersayang silahkan klik  www.galerilv.wordpress.com.

Advertisements

Jenis-jenis Riba

Terima kasih anda telah mengunjungi blog ini, kunjungilah koleksi tas Louis Vuitton, silahkan klik www.galerilv.wordpress.com.

 

 

Untuk melihat koleksi batik, silahkan klik www.batikjawabarat.com. Atau klik slidepresentasi untuk mendalami informasi seputar ISO dan informasi penting lainnya.

Riba ada empat macam, yaitu:

1. Riba Fadhli

Yaitu tukar menukar dua barang yang sejenis dengan tidak sama ukurannya, dan itu disnyaratkan oleh orang yang menukarkan. Contoh: menjual 5 kg beras dengan 6 kg beras.

2. Riba Qardhi

Yaitu memberikan pinjaman kepada orang lain dengan ada persyaratan dari orang yang meminjam, bahwa saat mengembalikan pinjaman itu harus ada tambahan atau keuntungannya. Contoh: Si A meminjam uang kepada si B sebesar Rp. 1000 dengan syarat bahwa si A harus mengembalikan hutang kepada si B sebesar Rp. 1100 (dilebihkan)

3. Riba Yad

Yaitu antara kedua belah pihak (penjual dan pembeli) berpisah dari tempat aqad jual beli sebelum serah terima barang.

Contoh : Si A membeli barang dari si B. Sebelum si A menerima barang yang dibeli dari si B, antara keduanya sudah berpisah sebelum serah terima dilakukan.

4. Riba Nasi’ah

Yaitu melambatkan pembayaran dari waktu yang semestinya, dengan menambahkan bayaran, nanti apabila terlambat lagi ditambah pula terus menerus, tiap keterlambatan wajib ditambah lagi.

Contoh: Si A hutang uang 1000 kepada si B. Kalau si A tidak bisa membayar hutang pada waktu yang telah ditentukan maka hutang itu akan ditambahkan Rp. 100 untuk satu bulan keterlambatan. Jadi, kalau si A terlambat membayar hutang selama beberapa bulan tinggal ditambahkan terus menerus, sehingga hutang yang asalnya Rp. 1000 bertambah besar jumlahnya kalau belum bisa melunasinya.

Demikian berbagi kali ini, tunggu sharing berikutnya mengenai syarat menghindari riba. Kita sama sama berdoa ya… semoga kita semuanya menjadi orang yang Sukses di mata Allah. Amiin. Terima kasih.

sumber: Menggapai rizqi dengan berbisnis ala islami, oleh ust. Husnul Albab

Riba

Terima kasih anda telah mengunjungi blog ini, silahkan klik

www.batikjawabarat.com

untuk melihat koleksi batik kami, sedang ada program discount 30% menjelang akhir tahun. Atau klik slidepresentasi untuk mendalami informasi seputar ISO dan informasi penting lainnya.

Kali ini saya ingin berbagi informasi seputar riba. Semoga artikel ini bermanfaat. Riba adalah suatu aqad yang terjadi dalam tukar menukar barang-barang tertentu yang tidak diketahui sama atau tidaknya menurut aturan, sehingga barang tersebut bisa bertambah atau lebih, atau dalam tukar menukar itu disyaratkan terlambat menerima salah satu dari dua barang.

Hukum riba adalah haram. Islam sangat membenci perbuatan riba dan Islam menganjurkan kepada umatnya agar dalam mencari rizqi hendaklah menempuh dengan cara yang halal seperti jual beli dan lain sebagainya.

 

 

Stress tampaknya kini telah menjadi teman yang begitu akrab dalam keseharian kehidupan kita. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan kita tergelincir dalam kondisi stress. Mungkin lantaran beban kerja yang terus menumpuk, dan rasanya ndak pernah kunjung usai. Sudah begitu mungkin kita mesti menghadapi lingkungan kerja kantor yang tak kunjung bisa menentramkan hati.

Kita mungkin juga bisa stress lantaran kondisi keuangan keluarga yang terus terhimpit (aduh gaji ndak naik-naik, sementara ongkos hidup terus meliuk-liuk). Atau juga lantara bisnis kita stagnan, dan dagangan ndak laku sementara modal kerja sudah makin menipis. Ringkasnya, begitu banyak hal yang barangkali bisa membikin kita stress dan kepala pening nyut-nyutan.

Jangan cemas, teman. Dari sejumlah wacana mengenai stress management, terdapat sejumlah siasat dan tema yang bisa kita pahami untuk bisa mengelola stress dengan ampuh. Disini kita hendak mengungkap mengenai tiga elemen kunci yang amat berpengaruh terhadap derajat kekuatan mental kita dalam menahan tekanan hidup yang datang silih berganti.

Aspek yang pertama adalah your PERCEPTION. Pada akhirnya stress sungguh amat tergantung pada persepsi dan cara pandang kita menatap fakta hidup di sekeliling kita. Dua orang mungkin bisa menemui masalah yang persis serupa, namun persepsi dua orang itu atas masalah itu bisa berbeda sama sekali. Disini terkuak bahwa individu yang cenderung memiliki persepsi atau pola pikir yang negatif (atau selalu menatap sebuah problem dari kacamata yang penuh dengan pesismisme dan “buram”) cenderung akan mudah tergelincir dalam genangan stress yang meruap-ruap.

Sebaliknya, individu yang selalu dibekali dengan positive mindset, yang selalu bisa melihat setitik asa dibalik segunung dilema, cenderung tidak mudah terkena stress. Persepsi mereka atas sebuah masalah selalu berfokus pada solusi dan berorientasi masa depan; dan ini membuat mereka senantiasa bisa mengelak dari beban stress yang berkepanjangan. Lalu bagaimana cara membangun persepsi yang positif? Anda bisa menemukan jawabannya disini.

Aspek yang kedua adalah your LOCUS of CONTROL. Individu dengan dengan “internal locus of control” percaya bahwa mereka paling bertanggungjawab dalam mengendalikan nasib mereka – bukan pihak/orang lain. Sebaliknya, individu dengan “external locus of control” percaya bahwa nasib mereka lebih ditentukan dan dikendalikan oleh kekuatan dari luar; oleh bos mereka, atau oleh “manajemen perusahaan”, atau oleh “kebijakan pemerintah” (duh).

Dari sejumlah penyelidikan, terbukti bahwa orang yang memiliki external locus of control cenderung mudah “menyerah” pada tekanan hidup; mentalnya rapuh, pasif, serta jarang memiliki kegigihan untuk memperbaiki jalan kehidupannya. Orang seperti ini biasanya gampang terkena stress. Sebaliknya, orang yang memiliki internal locus of control cenderung memiliki keyakinan kuat pada dirinya sendiri, dan tidak mudah tergelincir dalam stress.

Aspek terakhir dan paling penting dalam menjaga ketenangan hati adalah your SPIRITUALITY LEVEL. Kapan terakhir kali Anda bangun ditengah malam untuk merajut sebuah perjumpaan yang intens dengan Sang Kekasih Hati; dan kemudian tenggelam dalam rintihan doa yang menghanyutkan? Kapan terakhir kali Anda bangun di keheningan fajar, membasuh muka, dan lalu berjalan menuju Mesjid untuk menegakkan sholat Subuh berjamaah?

Individu yang selalu mendedahkan raga dan batinnya dengan Sang Pencipta tentu saja akan selalu dibasuh oleh jalan hidup yang menentramkan. Aura ketenangan hati selalu menyeruak, dan stress barangkali akan sukar hinggap didalamnya.

Sebaliknya, individu yang kian jauh dengan Sang Pencipta, yang berbondong ke Mesjid hanya seminggu sekali, yang pergi ke Gereja hanya setahun sekali, atau yang tidak pernah bersembahyang secara khusuk dalam keheningan Pagoda dan Kuil, cenderung akan mudah tergelincir dalam kegelisahan hati yang berkelindan. Disini ketenangan hidup yang hakiki nyaris tak pernah kunjung tergenggam.

Demikianlah tiga tema kunci yang mungkin perlu kita pahami dalam proses meraih hidup yang bebas dari kegelisahan dan kegundahan hati. Persepsi yang positif dan raca percaya diri untuk terus berikhitar mengendalikan jalan hidup adalah dua tindakan esensial yang perlu dilakoni. Dan kemudian genapkan semuanya dengan terus merajut perbincangan yang intim dengan Sang Kekasih Hati.

Dari situlah kita barangkali akan terus bisa singgah dalam jalan kehidupan yang penuh makna dan sungguh menentramkan.

 

Sumber: Strategimanajemen by Yodhia Antariksa

Pindah kuadran adalah sebuah istilah yang menjadi sangat populer lantaran buku best seller bertajuk Rich Dad, Poor Dad karangan Robert T. Kiyosaki. Isitilah ini merujuk pada perpindahan dari kuadran seorang pekerja (employee) bergerak menuju kuadran business owner atau entrepreneuer. Dari seseorang yang tiap bulan menerima gaji secara konstan, bergerak menjadi manusia mandiri yang create their own wealth.

Pilihan menjadi entrepreneur kini tampaknya memang tengah digandrungi banyak orang; dan ini tentu saja merupakan sebuah hal yang layak disukuri. Sebab seperti yang pernah saya tulis disini, negeri tercinta ini masih sangat membutuhkan barisan manusia mandiri yang berani mengambil resiko menjadi wirausahawan/wati. Sebuah keberanian untuk meretas jalan panjang demi meraih apa yang acap disebut sebagai financial freedom.

Pertanyaannya adalah : jika kita sudah terlanjur menjadi pekerja kantoran (employee) dan mungkin kini tengah menikmati sebuah comfort zone, apa yang mesti harus dilakukan untuk pindah kuadran? Dan kapan sebaiknya pindah kuadran? Tak ada jawaban baku disini, sebab seperti kata pepatah “ada banyak jalan menuju Roma”. Demikian pula, mungkin ada seribu jalan untuk melakoni proses perpindahan kuadran. Namun disini, saya hendak mendedahkan sejumlah catatan yang mungkin layak digenggam.

Catatan yang pertama adalah ini: kalaulah kelak Anda ingin menyodorkan resignation letter dan bertekad bulat full time menjalani wirausaha, pastikan bahwa probalilitas keberhasilan bisnis/usaha yang akan Anda tekuni itu setidaknya berada pada kisaran angka 70 %. Aturan inilah yang dulu saya terapkan ketika pada tahun 2004, saya memutuskan pindah kuadran, dan secara full time menekuni usaha secara mandiri. Saya akhirnya berani mengambil keputusan itu, setelah berdasar analisa yang saya lakukan, saya berkeyakinan bahwa usaha yang akan saya tekuni ini memiliki probabilitas 70 % akan berhasil (dan sejauh ini, alhamdulilah, estimasi itu tidak meleset).

Pertanyaan berikutnya : dari mana angka 70 % diperoleh? Ya tentu saja berdasar analisa atas potensi pasar. Ini bisa dilakukan dengan cara observasi, survei secara sederhana, ataupun berdasar kisah kegagalan/keberhasilan serta pengalaman dari para pelaku bisnis di bidang yang akan Anda tekuni. Angka itu juga mesti memperhatikan kapabilitas internal Anda dalam menjalani usaha yang akan ditekuni.

Namun pada akhirnya, semua juga terpulang pada your personal judgement. Kalau Anda bermental penakut, meskipun secara rasional hasil analisa menunjukkan bahwa 70 % usaha ini akan berhasil, namun mungkin hati kecil Anda akan selalu bilang “rasanya peluang bisnis ini untuk berhasil kok cuman 20 % saja….”. Wah, kalo begini mindset sampeyan, ya ndak jalan-jalan. Kalu begini, berarti mindset Anda yang perlu direparasi (silakan baca tulisan INI untuk merefresh mindet Anda).

Catatan yang kedua adalah ini : kalaulah Anda belum berani full time pindah kuadran, maka tentu saja Anda bisa menjalani apa yang saya sebut sebagai “double kuadran”. Bekerja di kantor tetap dilakoni, namun perlahan-lahan mulai merintis bisnis secara mandiri. Kelak kalau roda bisnis itu ternyata bisa memberikan income yang memadai, baru kemudian mengajukan pengunduran diri dari kantor. Model semacam ini menjanjikan rute yang lebih aman, dan sudah banyak kisah keberhasilan yang tersaji melalui rute double kuadran ini. Melalui smart management atau juga melalui pengaturan waktu yang tepat, pilihan model ini rasanya sangat layak untuk dicoba.

Pertanyaan terakhir : lalu apa dong kira-kira bisnis yang harus saya lakukan? Nah ini pertanyaan yang mudah dijawab. Silakan saja datang ke toko buku Gramedia (yang ada di Matraman, Jakarta merupakan the best choice) atau toko buku terdekat di kota Anda. Disitu Anda akan segera melihat puluhan atau mungkin ratusan buku tentang beragam peluang bisnis : mulai dari kiat bisnis waralaba, peluang bisnis baju koko, bisnis rumah makan mak nyus, bisnis jualan obat, bisnis secara online, bisnis jualan air isi ulang, bisnis properti…….semua ada, tinggal dipilih-pilih mana yang paling cocok menurut Anda.

Akhir kata, selamat mencoba dan berjuang menjadi juragan. Yang penting jangan terlalu banyak dipikir-pikir. Just do it now. Take action. Dan biarkan waktu yang menilai apakah kita akan berhasil, atau masih harus terus berjuang. Goodluck, my friends.

 

Sumber : strategimanajemen (Yodhia Antariksa)

 

Silahkan mampir di sini atau di sini

Diam-diam sebenarnya banyak pekerja kantoran – bahkan yang sudah mapan – yang berhasrat membangun usaha sendiri. Kejenuhan menjalani rutinitas masuk kantor jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore (kadang hingga jam 8 malam) mungkin menjadi salah satu pemicu (belum lagi jika suasana kantor yang suka bikin bete).

Potensi penghasilan yang lebih mak nyus juga membuat banyak pekerja kantoran pengin buka bisnis sendiri (ya, daripada lelah nunggu kenaikan gaji yang entah kapan datangnya. Pas udah datang, naiknya cuman 4 %. Doh #kepala mendadak puyeng mikirin biaya hidup yang makin mahal#).

Namun proses pindah kuadran dari pekerja kantoran menjadi juragan ternyata bukan hal yang mudah. Disana ada bentangan perjalanan yang berliku nan terjal. Nah di pagi yang cerah ini, kita mau menikmati sepotong kisah tentang anak muda yang berjibaku menjahit impiannya : mimpi pekerja kantoran yang ingin menjadi juragan.

Jreng, jreng. Anda semua sudah siap menikmati sajian renyah ini?

Kisah ini dimulai dari kehidupan anak muda bernama Adhika Dirgantara (sebuah nama yang keren). Ia lulusan sarjana ilmu informatika dari Binus (Universitas Bina Nusantara). Dulunya ia bekerja di bagian IT perusahaan Pfizer, sebuah perusahaan farmasi tenar berskala global. Gajinya juga ndak jelek-jelek amat, 5 juta per bulan.

Namun ia merasa, ritual pergi pulang bekerja sungguh meletihkan. Kantornya di Sudirman Jakarta, sementara ia tinggal di Bekasi. Setiap pagi ia berangkat kerja naik sepeda motor : menembus lautan kemacetan yang setiap saat menghadang selama 1,5 jam. Pulangnya juga sami mawon. Wah kalau begini, saya bisa tua dijalan dong, begitu ia membatin.

Bekerja di perusahaan besar yang penuh dengan birokrasi juga membuat ia merasa tak bisa bebas berkreasi. Terlalu banyak aturan dan hirarki. Ia juga cuma pekerja kelas rendahan. Ia jadi merasa sekedar sekrup dari perusahaan tempatnya bekerja. Sekedar menjadi sekrup dari mesin kapitalisme global yang terus menderu.

Kalau hidup kayak gitu terus, kok rasanya ndak asyik ya. Begitu ia kembali membatin. Kayak sayur lodeh tanpa garam. Hambar begitu. Hmm.

Begitulah pada usia 25 tahun, setelah tiga tahun menjadi pekerja kantoran, ia memutuskan untuk resign. Resign gitu lho (hayo siapa yang mau ikutan resign, ngacung).

Dengan bekal tabungannya, ia langsung buka usaha dibidang konsultan IT (sebuah pilihan yang lumayan pas dengan keahliannya). Namun ternyata ia hanya bisa dapat satu klien dengan nilai projek sekitar 30-an juta. Setelah itu NOL besar. Ndak ada lagi order masuk.

Pelan-pelan usaha konsultannya itu bangkrut. Kenapa? Sebab ia tidak memiliki keahlian untuk MENJUAL kepada calon klien (catatan : ini banyak terjadi pada teman saya yang juga ingin buka usaha menjadi konsultan manajemen. Dikira mencari klien itu gampang. Emang klien dari Hongkong).

Adhika lalu banting setir. Dengan modal tabungannya yang tersisa ia kemudian membuka bisnis toko tinta isi ulang. Ruko sudah disewa. Barang-barang sudah dipajang. Brosur promosi sudah disebar. Toh ternyata usaha ini hanya berjalan 6 bulan, dan lalu bangkrut lagi. Pembelinya sepi (hasil evaluasi menunjukkan lokasi ruko yang tidak strategis, terlalu sempit sehingga terkesan tidak bonafid, dan kalah dengan pesaing yang ada di jalan yang sama, dengan toko yang lebih megah).

Dua kali gagal. Hmm. Tabungan makin tipis. Hmm. Orangtuanya juga mulai panik. Hmm. (iih, kok ehm-ehm terus sih).

Ditengah-tengah situasi yang kepepet itulah, mendadak muncul “eureka momment” : aha, saya kan bisa bikin website, dan saya kan asli Pekalongan yang jago bikin batik (the power of kepepet itu ternyata ampuh juga ya).

Begitulah, ia lalu memadukan dua elemen vital itu yakni : kemampuan membikin website dan jaringan kenalannya dengan para juragan batik Pekalongan, untuk membuka bisnis online jualan batik. Lalu abrakadabra : lahirlah online store batik paling keren se Indonesia.

Alhamdulilah, karena keahliannya dalam internet marketing, dan akses yang luas akan produk-produk batik yang bagus dengan harga relatif murah, ia bisa membuat bisnis yang ketiganya ini SUKSES. Omzetnya sudah besar. Dan bahkan ia kini juga melebarkan bisnis online-nya untukberjualan emas batangan (alhamdulilah, sukses juga).

Ada tiga pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisahnya. Pertama, makin muda usia ketika Anda memulai usaha, makin bagus. Anda jadi punya cadangan waktu yang agak panjang ketika harus menghadapi kegagalan demi kegagalan (Adhika memutuskan resign dan memulai bisnis sendiri di usia 25 tahun, usia yang tergolong masih belia).

Kedua, kegagalan adalah sebuah lelakon yang kudu dijemput tanpa rasa takut berlebihan. Jika Anda berani sukses, mestinya juga harus berani gagal. Adhika mengalami dua kali kegagalan, dan ia tetap terus jalan (dan bukan ragu lalu kembali lagi menjadi karyawan. Kembali menjadi sekrup).

Ketiga, mimpi yang mau dijahit itu harus terus dikibarkan : mimpi menjadi juragan sukses. Adhika bilang, tanpa mimpi itu mungkin ia mudah menyerah kalah. “Impian yang berkibar-kibar itu yang membuat saya bisa terus bersemangat menjalani semua tantangan”.

Ia mengucapkan kalimat itu di hadapan saya dengan penuh keyakinan. Saya kemudian hanya bisa memeluknya erat-erat. Sebagai kakak kandungnya, saya cuman bisa merasa bangga.

Goodluck, my young brother !!!

Sumber: strategimanajemen (Yodhia Antariksa)

Ini ada tulisan dari Rony Yuzirman, founder komunitas TDA:

Pagi ini saya menonton biografi James Cameron yang membuat saya memohon kepada istri untuk menggantikan giliran saya mengantarkan Vito ke sekolah.

Saya sangat penasaran dengan sutradara fenomenal di balik sukses film Titanic dan Avatar ini. Semua orang mengakui kedua film ini adalah pencapaian luar biasa sepanjang sejarah perfilman.

James Cameron adalah imigran dari Canada. Ayahnya adalah seorang insinyur dan ibunya seorang peminat seni.

Ayahnya melarang James kecil yang gemar membaca komik, sementara ibunya membolehkannya. Kombinasi yang menarik 🙂

Drop out dari kuliah, James muda sempat menjadi supir truk dengan bayaran 4 dolar per jam.

Ketertarikannya sejak kecil dengan sains-fiksi membuatnya nekat melamar ke salah satu produser Hollywood dan ia pun pendapat pekerjaan dengan upah minim di bagian teknis.

Meski begitu ia tetap bekerja dengan penuh semangat karena yang dicarinya bukanlah uang, tapi pengalaman belajar dari sang produser senior itu. “Pengalaman 15 tahun saya dapat dalam hanya bekerja 1,5 tahun di sana”, tuturnya.

Passion dan kesungguhan bekerja ia tunjukkan sehingga karirnya pun mulai menanjak.

Sebuah tawaran menyutradarai film “abal-abal” dari Italia pun ia ambil. Namun proyek pertama ini gagal total dan membuatnya bangkrut bahkan berbulan-bulan tidak punya uang untuk makan sekali pun.

Impiannya tidak mati bersama kondisinya itu. Minatnya terhadap film sains-fiksi tetap hidup. Sampai suatu saat ia nekat menawarkan ide film, Terminator kepada produser di Hollywood. Ndilalah, proposalnya itu diminati dan dibiayai dengan anggaran cukup tinggi ketika itu. Film itu meledak dan karpet merah mulai terbentang untuk karir James Cameron.

Aliens, sekuel Terminator, The Abyss, True Lies kemudian menyusul setelah sukses Terminator. Semua filmnya adalah proyek ambisius, menggunakan teknologi terkini dan sering over budget.

James adalah sutradara keras kepala dan yakin dengan idenya. Ia tidak mau bernegosiasi soal budget. Titanic adalah masterpiece-nya yang mengalahkan pencapaian sepanjang masa dari Star Wars.

Mungkin watak keras kepada dan non kompromi ini terbawa juga ke dalam perjalanan hidup pribadinya yang kawin cerai sampai 4 kali.

Kata-kata kunci yang menjelaskan pencapaian James Cameron akhirnya saya dapat dari kutipan wawancaranya setelah Titanic memborong 11 penghargaan Oscar ketika itu.

“Saya selalu berusaha push beyond my limit“, ungkapnya.

Hal ini dibuktikannya lagi dengan pencapaian film Avatar yang merupakan torehan sejarah baru perfilman dunia. Ia selalu membuat yang tidak pernah dibuat oleh orang lain sebelumnya.

Sumber : Rony Yuzirman

Silahkan mampir dulu ke sini atau ke sini